Selasa, 05 April 2016

Kumpulan Puisi Chairil Anwar Karya Yang Menginspirasi

Puisi Chairil Anwar _ Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang banyak dinikmati oleh masyarakat. Puisi dengan kalimat indah dan menyentuhnya menciptakan suatu suasana perasaan tersendiri bagi para penikmatnya. Untuk kita yang bisa menikmati sebuah karya puisi, tentu tak lepas dari peran para penyair seperti Chairil Anwar. Banyak puisi Chairil Anwar yang memberikan inspirasi, menciptakan sebuah perasaan indah dan kenikmatan tersendiiri. 

Chairil Anwar merupakan salah satu penyair legendaris yang dilahirkan di Medan, Sumatra Utara, Indonesia pada tanggah 26 Juni 1922. Ia meninggal di Jakarta pada tanggah 28 April 1949 setelah melahirkan banyak karya sastra yang bisa kita nikmati hingga saat ini. Diperkirakan jumlah karya sastranya adlaah sebanyak 96 karya, termasuk puisi berjumlah 70 puisi. Karyanya abadi hingga saat ini bahkan orang yang bukan berasal dari zamannya pun ikut menikmatinya. Memang benar ungkapan bahwa seseorang bisa mati, namun tidak dengan karyanya dimana karyanya terus dinikmati dan dikenal dari zaman ke zaman.

Dari banyaknya puisi Chairil Anwar, ada salah satu puisinya yang begitu melekat dihati dan benak masyarakat yaitu puisi yang berjudul “AKU”. Juga karena puisi inilah Chairil Anwar dijuluki sebagai “Si Binatang Jalang”. Dimana Kalimat binatang jalang terdapat pada puisi berjudul “AKU” tersebut. Berbagai puisi ia lahirkan dengan beragam tema mulai dari tema pemberontakan, kematian, individualisme, eksistensialisme, bahkan tak jarang pula ia menciptakan puisi yang mult-interpretasi atau bisa diartikan secara beragam. Puisi memang memberikan jalan kepada kita untuk bisa mengungkapkan perasaan, kegelisahan, kesedihan, keprihatinan atas situasi yang ada baik yang menimpa diri kita secara pribadi maupun yang menimpa masyarakat. 

Hal itulah yang dilakuakan oleh Chairil Anwar sehingga menghasilkan begitu banyak karya sastra yang fenomenal. Misalnya dalam karyanya yang berjudul “AKU”. Dalam karya ini bisa diartikan sebagai ungkapan atas perasaan individu. Siapapun yang membacanya akan terbawa perasaan sedih, marah, dan berbagai perasaan lainnya. Juga bisa diartikan sebagai sebuah nasehat, permintaan, pantang menyerah. Dari puisi Cairil Anwar ini begitu menginspirasi bahkan seing digunakan atau dibacakan oleh seseorang dalam sebuah lomba membaca puisi. Dan Berikut adalah Kumpulan Contoh Puisi Chairil Anwar Terbaik Lengkap Terbaru Baik Tentang Ibu, Deru Campur Debu, Persahabatan, karawang bekasi, Cinta, Doa dan Lain-lainnya.

Puisi Chairil Anwar
!!! Cintaku Jauh di Pulau !!!

Gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya

Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

!!! Doa !!!

kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling


!!! Persetujuan dengan Bung Karno !!!

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh


!!! Puisi Chairil Anwar, Ibu !!!

Pernah aku ditegur
Katanya untuk kebaikan
Pernah aku dimarah
Katanya membaiki kelemahan
Pernah aku diminta membantu
Katanya supaya aku pandai

Ibu…..

Pernah aku merajuk
Katanya aku manja
Pernah aku melawan
Katanya aku degil
Pernah aku menangis
Katanya aku lemah

Ibu…..

Setiap kali aku tersilap
Dia hukum aku dengan nasihat
Setiap kali aku kecewa
Dia bangun di malam sepi lalu bermunajat
Setiap kali aku dalam kesakitan
Dia ubati dengan penawar dan semangat
Dan Bila aku mencapai kejayaan
Dia kata bersyukurlah pada Tuhan

Namun…..
Tidak pernah aku lihat air mata dukamu
Mengalir di pipimu
Begitu kuatnya dirimu….

Ibu….

Aku sayang padamu…..
Tuhanku….
Aku bermohon padaMu
Sejahterakanlah dia
Selamanya…..


!!! Rindu Sahabat !!!

Dikala malam datang..
Disaat itulah aku selalu merindukanmu..
Kamu yang dulu selalu bersamaku..
Kini kau telah jauh di negeri orang..
Kita terpisahkan oleh jarak yang begitu jauh..

Andai kau tau..
Aku disini selalu merindumu..
Aku rindu pada sosok dirimu yang begitu ceria..
Entah gimana keadaanmu sekarang..

Hanya potret gambarmu yang bisa menepis rindu ini..
Kau adalah sahabat terbaikku..
Jangan lupakan aku..
Walau raga kita jauh, tetapi kita tetap satu tujuan..


!!! Teman Terhebat !!!

Teman...
kau bagaikan obat yang menyembuhkan setiap lukaku
yang selalu membuatku tersenyum & bahagia

Teman...
kau seperti pahlawan yang hebat
kau seperti rumah yang melindungiku

Terima kasih oh teman terhebat
pertemanan kita tak mungkin kulupa untuk selama lamanya
karena kenangan itu adalah suatu anugrah dari tuhan yang maha kuasa

I love u friend..
i miss u friend
kita best friend forever


!!! Krawang-Bekasi !!!

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.

Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi


!!! Aku Semangat !!!

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi


!!! Diponegoro !!!

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.

Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda(s)
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang


!!! Derai Derai Cemara !!!

Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah


!!! Yang Terampas dan Yang Terputus !!!

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku


!!! Cintaku Jauh di Pulau !!!

gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan oleh-oleh buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.
Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”
Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.


!!! Senja di Pelabuhan Kecil !!!

Buat Sri Ajati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap. 


!!! Sajak Putih !!!

Buat Tunanganku Mirat
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…


!!! Rumahku !!!

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak

Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu.

!!! Merdeka !!!


Aku mau bebas dari segala
Merdeka
Juga dari Ida

Pernah
Aku percaya pada sumpah dan cinta
Menjadi sumsum dan darah
Seharian kukunyah-kumamah

Sedang meradang
Segala kurenggut
Ikut bayang

Tapi kini
Hidupku terlalu tenang
Selama tidak antara badai
Kalah menang

Ah! Jiwa yang menggapai-gapai
Mengapa kalau beranjak dari sini
Kucoba dalam mati.


!!! Mirat Muda, Chairil Muda !!!

Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah
menatap lama ke dalam pandangnya
coba memisah matanya menantang
yang satu tajam dan jujur yang sebelah
Ketawa diadukan giginya pada mulut Chairil,
dan bertanya : “Adakah, adakah kau selalu mesra dan aku bagimu indah ?”
Mirat raba urut Chairil, raba dada
Dan tahukah dia kini, bisa katakan
dan tunjukkan dengan pasti di mana
menghidup jiwa, menghembus nyawa
Liang jiwa-nyawa saling berganti.  Dia
rapatkan
Dirinya pada Chairil makin sehati
hilang secepuk segan, hilang secepuk cemas
hiduplah Mirat dan Chairil dengan deras
menuntut tinggi, tidak setapak berjarak
dengan mati 


!!! Kupu Malam dan Biniku !!!

Sambil berselisih lalu
mengebu debu.

Kupercepat langkah. Tak noleh ke belakang
Ngeri ini luka-terbuka sekali lagi terpandang

Barah ternganga

Melayang ingatan ke biniku
Lautan yang belum terduga
Biar lebih kami tujuh tahun bersatu

Barangkali tak setahuku
Ia menipuk.  


!!! Penghidupan !!!

Lautan maha dalam
mukul dentur selama
nguji pematang kita
mukul dentur selama
hingga hancur remuk redam
Kurnia Bahagia
kecil setumpuk
sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk 


!!!. Sorga !!!

Seperti ibu – nenekku juga
tambah tujuh keturunan yang lalu
aku minta pula sampai di sorga
yang kata Masyumi-Muhammadiyah bersungai susu
dan bertabur bidari beribu

Tapi ada suara menimbang dalam diriku
nekat mencemooh :  Bisakah kiranya ?
berkering dari kuyup laut biru
gamitan dari tiap pelabuhan gimana ?
Lagi siapa bisa mengatakan pasti
di situ memang ada bidari
suaranya berat menelan seperti Nina, punya kerlingnya Yati ?


!!! Selamat Tinggal !!!

Aku berkaca
Ini muka penuh luka
Siapa punya?

Kudengar seru menderu
- dalam hatiku? -
Apa hanya angin lalu?

Lagu lain pula
Menggelepar tengah malam buta
Ah…!!
Segala menebal, segala mengental
Segala tak kukenal

Selamat tinggal…!!!   
Jika dilihat dari beberapa puisi Chairil Anwar tentu kita melihat bahwa puisi-puisi tersebut memiliki tema cinta, suatu perasaan diri sendiri, kerinduan, kebahagiaan, suatu suasana yang dirasakan, tentang Tuhan, tentang pahlawan atau cinta tanah air, perjuangan, dan sebagainya. Perasaan dan suasana seperti itu sebenarnya dirasakan oleh semua orang. Hanya saja Chairil Anwar mampu untuk mengungkapkannya melalui sebuah puisi yang begitu indah dan menyentuh. Jadi apabila anda menyukai karya-karya puisi seperti karya-karya Chairil Anwar sebenarnya anda bisa juga mencoba untuk membuatnya dengan mengungkapkan perasaan dalam sebuah karya puisi.


Jika melihat puisi karya Chairil Anwar tentu kita melihat bagaimana rima atau sajaknya begitu mengalun senada. Memang bentuk puisi lama memiliki aturan seperti rima, irama, jumlah suku kata, serta berbagai aturan lainnya. Namun kini kita bisa membuat puisi lebih bebas tanpa terikat aturan tersebut. Untuk mengawali karya puisi milik anda, anda bisa membuat puisi pendek dan bebas. Nantinya apabila sudah mahir, tak menutup kemungkinan anda bisa menghasilkan karya sastra yang fenomenal seperti puisi Chairil Anwar. Banyak nama yang besar melalui karya-karya sastra, khususnya puisinya. Bukan hanya Chairil Anwar saja, namun ada juga tokoh lain seperti WS. Rendra, Whiji Tukul, Joko Pinurbo, Sutan Takdir Alisyahbana, dan banyak lagi lainnya. Mungkin anda adalah nama selanjutnya?

Kumpulan Puisi Chairil Anwar Karya Yang Menginspirasi Rating: 4.5 Posted by: Nina Hasrina